NAMA :
TITIS NUR ENNISA
NIM :
14113440052
MATA KULIAH :
MUKHTALIFUL HADIS
DOSEN PENGAMPU :
FAQIH HASYIM
1.
Apa yang disebut
dengan ilmu mukhtaliful hadis?
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib
mendefiniskan Ilmu Mukhtaliful Hadits wa Musyakilihi sebagai:
الْعِلْمُ الَّذِيْ يَبْحَثُ فِى
اْلأَحَادِيْثِ الَّتِيْ ظَاهِرُهَا مُتَعَارِضٌ فَيُزِيْلُ تَعَارُضَهَا أَوْ
يُوَفِّقُ بَيْنَهَا كَمَا يَبْحَثُ فِى اْلأَحَادِيْثِ الَّتِيْ يَشْكُلُ
فَهْمُهَا أَوْ تَصَوُّرُهَا فَيَدْفَعُ أَشْكَالَهَا وَيُوَضِّحُ حَقِيْقَتَهَا
Ilmu yang membahas hadits-hadits yang
tampaknya saling bertentangan, lalu menghilangkan pertentangan itu, atau
mengkompromikannya, di samping membahas hadits yang sulit dipahami atau
dimengerti, lalu menghilangkan kesulitan itu dan menjelaskan hakikatnya.
Dari
pengertian di atas dapat dipahami bahwa dengan menggunakan Ilmu Mukhtaliful
Hadits, maka hadits-hadits yang tampaknya bertentangan dapat diatasi
dengan menghilangkan pertentangan itu sendiri. Begitu juga dengan kemusykilan
yang terlihat dalam suatu hadits dapat dihilangkan dan ditemukan hakikat dari
kandungan hadits tersebut.
Sasaran
ilmu ini mengarah pada hadits- hadits yang saling berlawanan
untuk dikompromikan kandungannya dengan jalan membatasi (Taqyid)
kemutlakannya dan seterusnya. Ilmu ini tidak akan muncul kecuali
dari orang yang menguasai hadits dan fiqih. Yang menjadi objek ilmu ini adalah
hadits-hadits yang saling berlawanan itu, untuk dikompromikan kandungannya baik
dengan jalan membatasi (taqyid) kemutlakannya maupun dengan
mengkhususkan (takhsis) keumumannya dan lain sebagainya, atau
hadits-hadits yang musykil, untuk dita’wilkan, hingga hilang
kemusykilannya, walaupun hadits-hadits musykil ini tidak saling
berlawanan. Imam Syafi`i (w. 204 H) adalah ulama yang mempelopori munculnya
disiplin Ilmu Mukhtaliful Hadits.
2.
Adakah
syarat-syarat dalam membandingkan hadis-hadis yang bertentangan itu?
Berikut
beberapa faktor yang dapat dilihat untuk membandingkan hadis-hadis yang
bertentangan:
1) Faktor Internal Hadist (Al ‘Amil Al
Dakhily), meliputi
internal redaksi tersebut apakah ada ‘illat (cacat) yang dapat mengganti kedudukannya menjadi Dha’if.
2) Faktor Eksternal (al’ Amil al Kharijy), meliputi waktu, dan tempat dimana Nabi menyampaikan hadistnya.
3) Faktor Metodologi (al Budu’ al
Manhajy), meliputi cara bagaimana cara dan proses seseorang memahami hadist tersebut.
4) Faktor Ideologi, meliputi ideology suatu madzhab sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan pemahaman.
Apa
yang wajib dilakukan oleh orang yang menemukan dua hadits yang saling
bertentangan sama – sama maqbul. Dia hendaknya mengikuti langkah – langkah
dibawa ini:
1) Apabila
memungkinkan dikumpulkan antara keduanya maka supaya dikumpulkannya dan wajib
keduanya mengamalkannya.
2) Apabila tidak
mungkin dikumpulkan melalui beberapa arah yaitu :
a) Jika diketahui
salah satunya nasikh, maka kita dahulukan hadits yang menasakhkan itu dan kita
amalkanya, lalu kita tinggalkan yang dinasakh.
b) Jika tidak dapat
diketauhi yang demikian itu; Maka kita tarjihkan salah satunya dengan yang
lainnya dengan melihat dari beberapa segi menurut kaidah – kaidah tarjik yang
mencapai limah puluh arah atau lebih, kemudian kita amalkan yang rajih
tersebut.
c) Dan jika tidak
dapat ditarjihkan salah satunya maka kita tawaqufkan ( tidak kita amalkan
hingga nampak jelas kepada kita yang rajih.
3.
Sebutkan
beberapa solusi yang diberikan oleh para ahli hadis dalam menyelesaikan
hadis-hadis yang bertentangan itu? Dan apakah solusi-solusi itu merupakan
kesepakatan final yang diambil para ahli hadis sejak masa terbentuknya ilmu
tersebut? Jelaskan menurut pendapat anda?
Menurut
Imam al-Syafi’iy, ada tiga cara yang mesti dilakukan yakni penyelesaian dengan
cara kompromi, penyelesaian dengan cara nasakh dan
penyelesaian dengan cara tarjîh. Di mana ketiga cara tersebut
dilakukan dengan berurutan. Artinya jika cara pertama tidak menemukan jalan
keluar, maka ditempuh cara kedua, jika cara kedua belum juga diperoleh solusi,
maka ditempuh cara ketiga. Berikut penjelasan lebih lanjut:
1)
Metode al-Jam’u
(penggabungan atau pengkompromian), ialah menghilangkan
pertentangan yang tampak (makna lahiriyahnya) dengan cara menelusuri titik temu
kandungan makna masing-masingnya sehingga maksud sebenarnya yang dituju oleh
satu dengan yang lainnya dapat dikompromikan. Metode al-jam’u ini
tidak berlaku bagi hadits–hadits dlaif ( lemah ) yang bertentangan
dengan hadits–hadits yang shahih.
Dapat
diselesaikan dengan empat cara, yaitu:
a)
Menggunakan Pendekatan Kaedah Ushûl, yaitu memahami Hadîts Rasulullah
dengan memperhatikan dan mempedomani ketentuan-ketentuan atau kaedah-kaedah
ushul yang terkait yang telah dirumuskan oleh ulama (ushûliyûn).
b)
Pemahaman
Kontekstual, ialah memahami Hadîts- Hadîts Rasulullah
dengan memperhatikan dan mengkaji keterkaitannya dengan peristiwa atau situasi
yang menjadi latarbelakang disampaikannya Hadîts, dengan
memperhatikan asbâb al-wurud Hadîts-Hadîts tersebut.
c)
Pemahaman Korelatif, ialah memperhatikan keterkaitan
makna antara satu Hadîts dengan Hadîts lainnya
yang dipandang mukhtalif yang membahas permasalahan yang
sama sehingga pertentangan yang nampak secara lahiriyahnya dapat dihilangkan.
d)
Menggunakan
Cara Ta’wîl, berarti memalingkan lafadz dari makna lahiriyahnya
kepada makna lain yang dikandung oleh lafadz karena adanya qarinah yang
menghendakinya.
2)
Metode
Nasikh Mansukh, berarti bahwa hadits-hadits yang sifatnya hanya sebagai
penjelasnya (bayan) dari hadits yang bersifat global atau hadits-hadits yang
memberikan ketentuan khusus (takhsish) dari hal-hal yang sifatnya
umum, tidak dapat dikatakan sebagai hadits nasikh (yang menghapus).
3)
Metode
Tarjih, Metode ini dilakukan setelah upaya kompromi tidak memungkinkan lagi.
Maka seorang peneliti perlu memilih dan mengunggulkan mana diantara
hadits-hadits yang tampak bertentangan yang kualitasnya lebih baik. Sehingga
hadits yang lebih berkualitas itulah yang dijadikan dalil.
Solusi
diatas telah dipakai oleh para ulama selanjutnya maupun sebelumnya. Ini
dikarenakan cara al-Jam’u sudah jauh hari sebelumnya dipakai oleh Ibn
Hazm dan ulama lainnya, demikian halnya tentang nasikh wa al-mansukh, tarjih.
Ketidakkonsistenan al-Qardawi dengan menggabungkan atau mengkompromikan antara
hadis da’If dengan yang sahIh, bahkan dengan al-Qur`an sebenarnya lebih
didasari pada tuntutan emosional, di mana buku Kayfa Nata’ammal ma’a al-Sunnah
al-Nabawiyyah lebih diarahkan pada buku karya Muhammad al-Ghozali yang tidak
mentolerir hadis Nabi yang bertentangan dengan al-Qur’an ataupun hadis da’If
yang bertentangan dengan hadis sahih dalam kitab al-Sunnah al-Nabawiyyah baina
Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadis|; bukan berdasar keinginan untuk membuat paradigma
baru dalam memahami hadis Nabi, khususnya hadis yang mukhtalif.
4.
Buatlah
kesimpulan secara garis besar dari yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh
perinits dalam imu ini seperti yang tercantum dalam kitab-kitab mereka?
Banyak
para ulama’ yang menyusun karya dalam bidang ini. Karya paling awal dalam
bidang ini adalah Ikhtilaf al – Hadits
karya Imam Muhammad ibn Idris asy – Syafi’iy ( 150 – 204 H ), dan merupakan
kitab terkelasik yang sampai pada kita. Beliau tidak bermaksud menyubkan semua
hadits yang tampak bertentangan, tetapi hanya menyebut agar dijadikan sebagai
sampel oleh ulama’ lain.
Setelah
karya asy – Syafi’iy, karya yang terpopuler antara lain kitab Ta’wil Mukhtalif al – Hadits karya Imam
al – Hafidz Abdullah ibn Muslim ibn Qutaibah ad –Dainuriy ( 213 – 276 ).
Beliau menyusun untuk menyangah musuh – musuh hadits yang melancarkan beberapa
tuduhan kepada ahli hadits dengan sejumlah periwayatan beberapa hadits yang
tampak saling bertentangan. Beliau menjelaskan hadits – hadits yang mereka
klaim saling kontradiktif dan memberikan tantangan terhadap kerancuan –
kerancuan seputar hadits – hadits itu. Kitab beliau ini menempati posisi yang
amat tinggi dalam khazanah intelektual Islam, bahkan mampu membendung kerancuan
yang ditebarkan sementara kelompok Mu’tazilah, Musyabbihah dan yang lain.
Saya
akan kutipkan sedikit uraian dalam kitab itu.:” Beliau berkata : Mereka – para
pelaku bid’ah – mengatakan , ada dua hadits yang bertentangan dengan air yang
terkena najis. Mereka berkata , kalian meriwayatkan dari Nabi Saw., bahwa
beliau bersabda dalam sebuah hadits : Air tidak bisa dinajiskan oleh sesuatu
pun
Kemudian kalian juga meriwayatkan dari beliau, bahwa beliau bersabda :
Bila air telah mencapai dua kulla, maka tidak akan membawa najis.
Yang terakhir ini menunjukkan, bahwa bila air itu kurang dari dua kulla, maka akan membawa najis, ini jelas berbeda dengan hadits yang pertama.
Ibnu Qutaibah berkata, kami akan mengatakan bahwa hadits yang pertama. Rasul SAW. Menyebabkan hadits yang pertama berdasarkan kebiasaan dan yang paling banyak terlihat. Karena biasanya air yang ada disumur – sumur ataupun di kolam – kolam jumlahnya banyak. Sehingga peryataan beliau itu memiliki pengertian spesifik. Ini sama dengan orang yang mengatakan : “ Banjir tak dapat dibendung oleh sesuatu pun “. Padahal ada banjir yang terbendung oleh tembok. Yang dimaksud adalah banjir bandang, bukan banjir kecil. Sema juga dengan orang yang mengatakan : “ Api tak dapat dimatikan oleh sesuatu pun.” Yang dimaksudkannya bukanlah api lentera yang akan mati tertiup agin, bukan pula percikan api, tetapi yang dimaksudkannya adalah api yang membara. Kemudian beliau menjelaskan kepada ukuran air itu dua kolla, suatu ukuran yang tidak bisa dinasjiskan, yakni air yang terbilang banyak.
Kemudian kalian juga meriwayatkan dari beliau, bahwa beliau bersabda :
Bila air telah mencapai dua kulla, maka tidak akan membawa najis.
Yang terakhir ini menunjukkan, bahwa bila air itu kurang dari dua kulla, maka akan membawa najis, ini jelas berbeda dengan hadits yang pertama.
Ibnu Qutaibah berkata, kami akan mengatakan bahwa hadits yang pertama. Rasul SAW. Menyebabkan hadits yang pertama berdasarkan kebiasaan dan yang paling banyak terlihat. Karena biasanya air yang ada disumur – sumur ataupun di kolam – kolam jumlahnya banyak. Sehingga peryataan beliau itu memiliki pengertian spesifik. Ini sama dengan orang yang mengatakan : “ Banjir tak dapat dibendung oleh sesuatu pun “. Padahal ada banjir yang terbendung oleh tembok. Yang dimaksud adalah banjir bandang, bukan banjir kecil. Sema juga dengan orang yang mengatakan : “ Api tak dapat dimatikan oleh sesuatu pun.” Yang dimaksudkannya bukanlah api lentera yang akan mati tertiup agin, bukan pula percikan api, tetapi yang dimaksudkannya adalah api yang membara. Kemudian beliau menjelaskan kepada ukuran air itu dua kolla, suatu ukuran yang tidak bisa dinasjiskan, yakni air yang terbilang banyak.
Dalam
bidang ini, yang terpopuler diantaranya karya – karya yang sampai kepada kita
adalah kitab Muskil Al - Atsar karya Imam
al – Muhaddtis al – Faqih Abu jafar Ahmad ibn Muhammad ath – Thahawiy ( 239
– 321 ), yang terdiri dari empat jilid, dan dicetak di india pada tahun 1333 H.
Juga kitab Musykil al – Hadits Wa
Bayanuhu karya Imam al – Muhaddits Abu bakar Muhammad ibn al – Hasan (
Ibn Furak ) al – Ashbahaniy yang wafat pada tahun 406 H. Beliau menyusun
berkenaan dengan hadits – hadits secara literatur diduga kontrodiktif,
mengandung tasybih dan tajsim, yang dijadikan sebagai landasan melancarkan
cercaan terhadap agama. Lalu beliau menjelaskan maksudnya dan membatalkan
banyak klaim yang salah seputar hadits – hadits itu dengan beragumen pada dalil
– dalil naqli dan aqli. Kitab ini telah dicetak di india pada tahun 1362 H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar